Setelah saat itu, tak terjadi apa-apa, biasa saja.
Aku
menjalani hari-hariku seperti biasa, dia pun aku rasa sama, punya
kehidupannya sendiri yang menarik dan pasti dengan seorang wanita
berparas cantik nan sexy. Jelas bukan aku.
Waktu
berlalu sekitar hampir 3 minggu setelah pertemuanku dengan dia, aku tak
ingat pasti bagaimana awalnya tapi kami chatting di Line dan hanya
sebagai teman.
Jujur bagiku dia bukanlah orang yang
penting, bukan prioritas teman dekat untukku. Aku beranggapan seperti
itu bukan karena aku merendahkan dia, tapi justru karena aku merasa tidak
pantas untuknya.
Aku yakin 100% bahwa sesering apapun kami chatting, kami hanya akan berteman.
Orang-orang seperti dia tidak akan mau dengan perempuan sepertiku, pasti dimatanya aku tidak menarik sama sekali.
Ah bang, jangankan wajah cantik dan tubuh yang sexy, dari ujung rambut sampai ujung kaki saja adek tutup semua. :')
Minder?
Iya sangat, jelas!
Karena aku tidak terbiasa berharap lebih pada seorang pria yang belum menyatakan apa-apa.
Alhamdulillah kebiasaan ini membuatku jarang jadi korban PHP atau ke ge-er-an.
Suatu
hari entah itu kapan, mulai ada beberapa chat yang "menjurus" kesana
tapi aku tidak ingin terlalu peka, maka tetap saja itu ku abaikan.
Hingga
tiba saat dimana kegalauan dari masa lalu datang di otakku dan aneh
binti bodohnya aku malah menceritakan itu semua padanya, iya, kami
akhirnya bertemu untuk kedua kalinya.
Saling bercerita, tukar pikiran, disini aku bisa melihat dia memiliki pemikiran yang dewasa.
Wajahnya
yang masih tampak seperti anak SMA berbanding terbalik dengan hati dan
pikirannya, dia orang yang penyabar, tidak berfikir asal, tidak mudah
terbawa emosi, dan bisa menghadapi suatu masalah dengan kepala dingin.
Dari saat tu aku berfikir...
yaa.. dia sangat cocok menjadi...
teman baikku.
Seriusan ini mah, sumpah gak ada baper sama sekali waktu itu..
gak ada niat-niat buat PDKT dan sebagainya, emang bener2 bangga punya temen yang baik banget kayak dia. kek semacam pengen bilang "proud of you, Bro! salut gua sama lo" udah gitu aja.
Setelah
pertemuan itu semua berjalan seperti biasa, hingga terjadi suatu
masalah yang tidak bisa ku ceritakan disini sehingga membuat kami harus
bertemu lagi untuk yang ke-3 kalinya membahas masalah ini.
Di pertemuan ke-3 ini tepat pada tanggal 29 September 2015, adalah hari yang tidak bisa ku lupakan.
Dia menyatakan isi hatinya.
Dia bukan orang yang romantis, bukan orang yang penuh dengan kata-kata manis.
Dia sangat takut berjanji, karena dia tak ingin mengecewankanku ketika janji itu tidak dia tepati.
Cara dia menyatakan perasaannya pun bukan dengan kata-kata "so sweet" layaknya kebanyakan orang.
dengan nada serius, yakin, dan perlahan dia berkata...
"kamu mau gak jadi pacar aku?"
"I Love You"
"Aku sayang sama kamu"
" sejak pertama melihatmu, aku merasakan getaran di dada... #*$^@&$*%^@%@^&*!&#&$^$@"
Kagak begituuuu, kagaaakkkk.. :'p
dengan nada serius, yakin, dan perlahan dia berkata...
"saski, aku udah tua.. uda gak mau main-main lagi.. kira-kira kamu mau gak diajak serius?"
speechless, saat itu aku bingung dan tidak bisa berkata apa-apa selain 'ha?' dengan tangan yang mulai mendingin.
aku menjawab dengan banyak kata-kata berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang membuat kedaan jadi semakin rumit.
Hingga akhirnya dia meneruskan ".. kamu ngerti gak sih maksud aku apa?"
ok, karena ini tampak sedikit memaksa akhirnya aku menjawab
"maaf kak, saski gak mau pacaran lagi, takut sakit lagi, masih trauma banget"
tapi setelah ngomong kyak gitu aku langsung mikir "yaelah saski, siapa juga yg ngajak pacaran.." -____-
tapi dengan lembut dan yakinnya dia menjawab,
"kamu
gak perlu buru-buru kayak gitu, jalanin aja, aku pun maunya kita segera
nikah, tapi keadaannya belum memungkinkan kalo langsung kan.. ada banyak hal yang harus di persiapin"
seketika bermunculan kunang-kunang, tiba-tiba otak jadi
full dan tidak bisa berfikir jernih lagi, ini sangat sangat sangat
membingungkan.
Biasanya ketika ada yang menyatakan perasaannya aku hanya punya dua jawaban, "Iya" atau "Tidak".
Tapi kali ini, aku memang harus "pikir- pikir dulu"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar