Sabtu, 23 Juli 2016

Rabu, 20 Juli 2016

H-3

 

Cuma tiga kali ketemu dan pada pertemuan ketiga langsung komit prepare buat masa depan tanpa ada prosesi "penembakan" kayak jaman SMA..

pertanyaan romantis nan dramatis "aku sayang sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?" di ganti dengan pertanyaan simple tapi mak nyuuss "kamu mau di ajak serius gak?"

speechless dengan mulut ngangak pasti..
pikiran "ini orang lg mabok?" itu juga pasti ada pas di tanya kayak gitu..

gak ada kode apa2 sebelumnya, PDKT atau apa juga gak ada..
tanpa bunga, tanpa coklat, tanpa ungkapan I Love You bla bla bla..

yup, gak romantis dan gak mau ngasih janji2 manis... dia lah orangnya.

Sabtu, 16 Juli 2016

H-7



kalian harus tau gimana rasanya prepare menjelang hari serius bareng sama orang yang gak pernah serius..
berkali2 gagal ngambek cuma karna gak kuat nahan ketawa gara2 tingkahnya..
well, than..
ketawa uda jadi sebagian besar dari kegiatan hidup..

Kamis, 14 Juli 2016

Istikharah



كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ، يَقُولُ: " إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الفَرِيضَةِ
 
"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengajari kami shalat istikharah dalam setiap perkara /  urusan yang kami hadapai, sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Quran. Beliau berkata, “Jika salah seorang di antara kalian berniat dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang bukan shalat wajib," 
(Shohih Bukhori, no.7390) 

Aku belum mengerti betul tentang Islam, belum satu tahun aku menjadi mualaf dan baru saja aku berhijab sekitar 3 bulan tapi sepertinya ini yang bisa membantuku mendapatkan jawabannya.
Aku tidak hebat dalam ilmu agama, tapi yang aku percaya dan tau hanya satu, apapun yang aku minta selalu di berikan oleh Allah.
Itu yang terjadi selama aku meminta pada-Nya.
Kini aku meutuskan untuk menanyakan hal ini pada-Nya, hal yang menyangkut masalah hati maka kepada Sang pembolak-balik hati lah aku harus bertanya.

Usai sholat dua rakaat itu pun aku mulai berdoa, aku tidak berdoa sepeti apa yang aku baca di internet tentang doa setelah sholat istikharah, aku menggunakan bahasaku sendiri yang membuatku merasa lebih dekat dengan Dia yang menciptakanku.
Aku hanya mencurahkan apa yang aku rasakan, aku bertanya, menangis, memohon petunjuk dan bersujud lama untuk membiarkan apapun yang ada dalam pikiranku mengalir begitu saja.
Begitu terus yang kulakukan hingga sholat istikharah ku yang ketiga, 
tidak bisa di jelaskan dari mana asalnya tapi aku yakin bahwa apapun kekurangan dirinya, apapun masa lalunya yang kelam dan menurutku sangat tidak baik, "aku siap".

Alhamdulillah hatiku sudah lapang dan mantap tentang masalah ini.

Ini bukan cinta pada pandangan pertama

Setelah saat itu, tak terjadi apa-apa, biasa saja.
Aku menjalani hari-hariku seperti biasa, dia pun aku rasa sama, punya kehidupannya sendiri yang menarik dan pasti dengan seorang wanita berparas cantik nan sexy. Jelas bukan aku.

Waktu berlalu sekitar hampir 3 minggu setelah pertemuanku dengan dia, aku tak ingat pasti bagaimana awalnya tapi kami chatting di Line dan hanya sebagai teman.
Jujur bagiku dia bukanlah orang yang penting, bukan prioritas teman dekat untukku. Aku beranggapan seperti itu bukan karena aku merendahkan dia, tapi justru karena aku merasa tidak pantas untuknya.
Aku yakin 100% bahwa sesering apapun kami chatting, kami hanya akan berteman.
Orang-orang seperti dia tidak akan mau dengan perempuan sepertiku, pasti dimatanya aku tidak menarik sama sekali. 

Ah bang, jangankan wajah cantik dan tubuh yang sexy, dari ujung rambut sampai ujung kaki saja adek tutup semua.  :')

Minder?
Iya sangat, jelas!
Karena aku tidak terbiasa berharap lebih pada seorang pria yang belum menyatakan apa-apa.
Alhamdulillah kebiasaan ini membuatku jarang jadi korban PHP atau ke ge-er-an. 

Suatu hari entah itu kapan, mulai ada beberapa chat yang "menjurus" kesana tapi aku tidak ingin terlalu peka, maka tetap saja itu ku abaikan. 
Hingga tiba saat dimana kegalauan dari masa lalu datang di otakku dan aneh binti bodohnya aku malah menceritakan itu semua padanya, iya, kami akhirnya bertemu untuk kedua kalinya.
Saling bercerita, tukar pikiran, disini aku bisa melihat dia memiliki pemikiran yang dewasa.
Wajahnya yang masih tampak seperti anak SMA berbanding terbalik dengan hati dan pikirannya, dia orang yang penyabar, tidak berfikir asal, tidak mudah terbawa emosi, dan bisa menghadapi suatu masalah dengan kepala dingin.
Dari saat tu aku berfikir...
yaa.. dia sangat cocok menjadi...

teman baikku.

Seriusan ini mah, sumpah gak ada baper sama sekali waktu itu..
gak ada niat-niat buat PDKT dan sebagainya, emang bener2 bangga punya temen yang baik banget kayak dia. kek semacam pengen bilang "proud of you, Bro! salut gua sama lo" udah gitu aja. 

Setelah pertemuan itu semua berjalan seperti biasa, hingga terjadi suatu masalah yang tidak bisa ku ceritakan disini sehingga membuat kami harus bertemu lagi untuk yang ke-3 kalinya membahas masalah ini.
Di pertemuan ke-3 ini tepat pada tanggal 29 September 2015, adalah hari yang tidak bisa ku lupakan.
Dia menyatakan isi hatinya.
Dia bukan orang yang romantis, bukan orang yang penuh dengan kata-kata manis.
Dia sangat takut berjanji, karena dia tak ingin mengecewankanku ketika janji itu tidak dia tepati.

Cara dia menyatakan perasaannya pun bukan dengan kata-kata "so sweet"  layaknya kebanyakan orang.
dengan nada serius, yakin, dan perlahan dia berkata...

"kamu mau gak jadi pacar aku?"
"I Love You"
"Aku sayang sama kamu"
" sejak pertama melihatmu, aku merasakan getaran di dada... #*$^@&$*%^@%@^&*!&#&$^$@"

Kagak begituuuu, kagaaakkkk.. :'p 

dengan nada serius, yakin, dan perlahan dia berkata... 
"saski, aku udah tua.. uda gak mau main-main lagi.. kira-kira kamu mau gak diajak serius?"
speechless, saat itu aku bingung dan tidak bisa berkata apa-apa selain 'ha?' dengan tangan yang mulai mendingin. 
aku menjawab dengan banyak kata-kata berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang membuat kedaan jadi semakin rumit.
Hingga akhirnya dia meneruskan ".. kamu ngerti gak sih maksud aku apa?"
ok, karena ini tampak sedikit memaksa akhirnya aku menjawab 
"maaf kak, saski gak mau pacaran lagi, takut sakit lagi, masih trauma banget" 

tapi setelah ngomong kyak gitu aku langsung mikir "yaelah saski, siapa juga yg ngajak pacaran.." -____- 

tapi dengan lembut dan yakinnya dia menjawab, 
"kamu gak perlu buru-buru kayak gitu, jalanin aja, aku pun maunya kita segera nikah, tapi keadaannya belum memungkinkan kalo langsung kan.. ada banyak hal yang harus di persiapin" 
seketika bermunculan kunang-kunang, tiba-tiba otak jadi full dan tidak bisa berfikir jernih lagi, ini sangat sangat sangat membingungkan.
Biasanya ketika ada yang menyatakan perasaannya aku hanya punya dua jawaban, "Iya" atau "Tidak".
Tapi kali ini, aku memang harus "pikir- pikir dulu"

First Sight

kapan pertama kali kita ketemu?

gak tau.
gak inget.
udah.

yang jelas, pertama kali ketemu dan liat dia, aku takut..
dia gak keliatan kayak orang baik-baik.. heheheh
aku bisa liat tampang-tampang player di wajahnya..hih.
kek semacam trauma gitu lah ya, sama yg udah udah.

oke please, ini blog serius, kita ganti bahasanya yaaakkk.. :p

Saat itu adalah saat yang paling biasa-biasa saja dalam hidupku, bukan waktu yang spesial, bukan pula dalam suatu acara yang tak terlupakan.
Itu adalah saat dimana aku bertemu dengannya.
Dia bukan siapa-siapa, hanya sekedar teman dari sahabatku saja, titik.
Pertama kali melihatnya, aku tak bisa melihat wajahnya... mataku.. mataku..
oh bukan, dia memakai masker, pantas saja aku tak bisa melihat wajahnya.

maap maap, ok lanjut.

aku datang menghampirinya bersama seorang sahabat dekatku, Rizka,  yang terlebih dahulu menjadi temannya.
Mereka saling menyapa, aku hanya tersenyum tanpa berinteraksi apapun dengannya.

Gak paham lagi dah sama si Rizka, uda di anterin malah gak ngenalin aku ke temennya, kan aku jadi canggung, namanya dia siapa aja aku gak tau, parah si Rizka sumpah. -___-